Laba Laba Hijau

-Cerita Kecil-

Pagi itu aku berangkat ke kebun belakang. Aku mau membantu yang bertugas merawat kebun.

Aku pilih sepetak kebun sayuran. Aku dengan pelan mulai mencangkuli, membersihkan rumput liar yang sudah tinggi.

Eh, ternyata aku masih bisa mencangkul loh🤣. Tangan tidak lecet juga. Tetapi setelah satu petak cukup bersih, aku mulai berkeringat banyak. Pandangan kunang-kunang. Ah harus istirahat dulu nih, kataku. Sambil mengusap keringat, aku pandang sekeliling.

Tiba-tiba aku terkejut melihat apa yang di depan mataku. Seekor laba-laba hijau sebesar ibu jari sedang nongkrong di jaring tengahnya.

Waduh, kalau wajahku nabrak dia, apa jadinya nih, aku berkata dengan diriku sendiri. Untung tidak kena.

Lalu kuamati dia. Hijau campur hitam, ada putih peraknya. Sedang apa ya? Tidurkah? Heran juga, orang sibuk di dekatnya kok merasa tidak terusik. Tetap diam bertengger di sarang yang berupa jaring-jaring yang menghubungkan dari daun yang satu ke daun tanaman yang lain. Tak terusik.

Barangkali dia sedang menunggu mangsa masuk ke jejaring jebakannya, sehingga ia bisa memakannya. Lah, emang aku sedang dijebak? Haha, mosok orang bisa dijebak laba-laba. Akulah yang akan lebih dahulu meremukkannya.

Ah, tapi kuurungkan niatku. Laba-laba itu mungkin menjebak nyamuk kebun. Itulah makanannya.

Kulihat lagi. Kuamati. Aku jadi ingat pengalaman: dulu aku pernah kena cairan yang dikeluarkan laba-laba. Waktu itu persis jatuh di wajahku. Panas rasanya di kulit. Sembuhnya lama, dan meninggalkan bekas seperti luka bakar.

Kuusap wajahku. Ah, syukur tidak kena semprotan laba-laba lagi. Tetapi sayang wajahku kena lumpur tanah basah yang menempel di tangan.

Alam yang indah itu ternyata juga menyimpan hal yang menakutkan. Selalu ada predator yang siap memangsa yang lemah. Laba-laba memangsa nyamuk dan serangga yang lain.

Alam manusia juga tida sepi dari predator. Instinct kebinatangan manusia pada dasarnya untuk sekedar upaya survival juga. Tetapi apakah manusia hidup hanya sekedar untuk survive? Kalau hanya untuk mempertahankan hidup, apa bedanya manusia dengar binatang di alam bebas ini?

Apakah manusia membangun jejaring pertemanan untuk mendapatkan mangsa yang lebih lemah? Apakah membangun persaudaraan dan solidaritas hanya untuk membesarkan daya predatornya lebih hebat?

Laba-laba hijau di kebun itu memang gagah dan anggun, tetapi manusia lebih daripada laba-laba itu. Manusia nisa membangun jejaring pertemanan dan persaudaraan bukan untuk menjadi predator. Manusia bersahabat karena manusia mampu mencintai, mengasihi, menghibur, saling dan membantu. Jejaring kasih manusia itu menguatkan yang lemah dan tak berdaya, bukan malahan memperdaya.

“Apa yang kaulakukan pada yang paling lemah, kau lakukan itu padaKu.” (bdk.Mt 25:40)

Jadi kalau kita menindas yang lemah, kita melakukan itu pada Tuhan sendiri.

Kuingat kata-kata Yesus itu. Kubawa dalam hati. Manusia itu bukan predator. Manusia itu “co-creator” dan “co-lover” (rekan sekerja Allah yang mencipta dan mengsihi seluruh alam ciptaanNya).

Salam kasih sayang.
eMYe

 

-ditulis oleh eMYe-

Norma Moral Kristiani

-Katekese Singkat-

Iman tanpa moral itu kosong. Iman tanpa perbuatan (baik) itu mati (Yakobus).

Di tengah arus kebebasan, berbicara tentang norma atau hukum cenderung tidak enak. Konotasi norma dan hukum cenderung membatasi kebebasan. Ini tentu tidaklah salah.

Adanya norma itu karena kebutuhan hidup bersama. Manusia tidak hidup sendiri. “No man is an island.” Maka, norma dibutuhkan agar hidup bersama tidak menjadi liar dan saling merusak apalagi saling menghancurkan. Maka, dalam arti itu norma memang membatasi kebebasan seseorang demi tercapainya tujuan hidup bersama yang damai, adil dan saling menghargai.

Jadi tujuan adanya norma adalah kepentingan dan kebaikan bersama. Norma yang tidak menjamin kebaikan bersama pada dasarnya kehilangan daya ikatnya.

Ada 4 ciri norma moral dalam Gereja Katolik:
(1). Norma itu mesti dapat diterima akal sehat (reasonable).
(2). Norma itu dinyatakan secara publik (promulgated).
(3). Norma itu diumumkan oleh pihak yang memiliki otoritas moral (pemimpin Gereja) sehingga menjadi ajaran resmi.
(4). Norma itu untuk kepentingan dan kebaikan umum bukan individual (for the common good).

Arti kata norma sendiri adalah ukuran atau pegangan yang bisa dipakai untuk menilai sesuatu itu benar atau salah. Karena sifatnya publik dan resmi, maka norma itu mengikat kepentingan bersama.

Nah norma moral itu apa? Norma moral itu ukuran atau pegangan yang dipakai untuk menuntun hidup orang di jalan yang baik sesuai ajaran iman Katolik. Singkatnya, norma moral itu ukuran untuk menilai apakah sesuatu itu baik atau buruk.

Contoh norma moral Kristiani adalah Sepuluh Perintah Allah (Ten Commandments atau Dekalog) Yang diringkaskan sebagai Hukum Kasih (Cintailah Tuhan Allahmu dan sesamamu) seperti yang diajarkan Kristus.

Dari situ, Gereja merumuskan ajaran moral yang menjawab situasi dan tantangan jaman. Norma moral terus berkembang, tetapi jiwa dan semangatnya tetap sama yakni ajaran cinta kasih yang disampaikan oleh Yesus Kristus. Maka bagi kita, Yesus Kristus adalah sumber dari segala norma moral.

Syalom
eMYe

-ditulis oleh eMYe-

DEKALOG

-Katekese Singkat-

Dekalog artinya “Sepuluh Sabda” yang juga dikenal sebagai Sepuluh Perintah Allah. Musa menuliskan Sepuluh Sabda itu ke dalam loh batu yang kemudian disimpan dan dihormati sebagai dalam Tabut Perjanjian. Tuhan Allah hadir di dalam sabdaNya itu.

Allah yang dialami sebagai Allah Penyelamat ingin agar rahmat keselamatan itu dijaga dalam umatNya. Tanpa rahmat keselamatan itu umat akan terceraiberai dan mengalami kehancuran. Oleh karena itu Allah memberikan Dekalog kepada Musa agar menjadi pegangan dalam menjaga rahmat keselamatan itu.

Isinya apa? Setiap orang Katolik mestinya sudah tahu ini sebagai hukum kasih yang bisa dikelompokkan dalam pilar-pilar hidup bersama sebagai Umat Allah.

Pilar Pertama/ Dasar : Hormat pada Allah

Kepercayaan pada Allah dan mengandalkan Allah merupakan dasar hidup orang beriman (perintah 1, 2 dan 3).

1. Hormatilah Aku Tuhan Allahmu. Sembahlah Aku sebagai satu-satunya Allah yang menyelamatkanmu.

2. Jangan menyebut nama Tuhan tanpa rasa hormat.

3. Hormatilah Hari Tuhan.

Ketiganya ini sebagai hukum yang erat kaitannya. Menghormati Tuhan nyata juga dalam sikap bakti kita kepadaNya. Sikap bakti menumbuhkan rasa hormat akan nama dan kuasaNya. Maka, aneh apabila orang mengaku percaya akan Tuhan tetapi tidak memiliki sikap bakti kepadaNya. Beriman kepadaNya berarti juga hidup dalam sikap bakti kepadaNya. Sikap bakti itulah yang mengungkapkan cinta kita padaTuhan.

Pilar Kedua: Hormat pada Kehidupan

Pilar kedua (perintah 4 dan 5) merupakan pilar penting untuk keberlangsungan hidup manusia dan umat. Tanpa pilar ini semua relasi antar manusia pada dasarnya kehilangan dasarnya (raison d’etre).

4. Hormatilah ibu bapamu

5.Jangan membunuh

Menghormati orangtua yang melahirkan kita juga berarti menghormati hidup yang diberikan Tuhan. Hormat terhadap sesama yang paling hakiki adah hormat pada pribadi dan hidupnya. Oleh karena, membunuh merupakan pelanggaran berat.

Pilar Ketiga: Hormat atas Pribadi & Jatidiri Orang

Lebih konkret lagi, prioritas hormat pada sesama dinyatakan pada sikap menghargai pribadinya. Sebab setiap pribadi merupakan gambaran Allah (citra Allah, Kej. 1:6-7). Ini termuat pada perinta ke-6 dan ke-9).

6. Jangan berzinah;

9. Jangan mengingini isteri/suami orang lain.

Menghormati pribadi setiap orang menuntun pada perlakuan yang yang adil pada martabatnya. Hormat pada realitas bahwa kita diciptakan sebagai manusia yang konkret, laki-laki dan perempuan ataupun kenyataan seksualitas yang lain.

Siapapun dia dengan segala kecenderungan seksualitasnya adalah ciptaan Tuhan dan pantas dihormati. Setiap tindak pelecehan berarti merendahkan Tuhan sendiri. Setiap pribadi itu suci, siapa pun dia. Dosa merendahkan martabat orang lain sama saja merendahkan martabat diri sendiri.

Pilar Keempat: Hormat atas Hak Milik

Setiap orang memiliki hak-hak yang sama, termasuk hak milik untuk kebutuhan hidupnya. Pilar ini meliputi perintah 7 dan 10.

7. Jangan mencuri;

10. Jangan mengingini harta milik orang lain.

Pemenuhan hak milik pribadi tidak boleh sampai merusak atau bahkan merampas hak milik pribadi orang lain. Mengambil hak milik orang itu merupakan ketidakadilan, yang merusak rasa hormat pada sesama.

Pilar Kelima: Kejujuran

Memelihara dan membangun kehidupan bersama mesti dengan semangat ketulusan dan kejujuran. Maka, pilar ini tidak bisa diabaikan dalam hidup bersama kita. Ini dirumuskan dalam perintah ke-8.

8. Jangan bersaksi dusta

Hidup bersama tidak bisa dibangun atas dasar dusta. Kalau dengan dusta kita membangun relasi, maka relasi itu rapuh. Dusta itu rapuh bahkan bisa menghancurkan diri sendiri. Tetapi kejujuran itu teguh.

Oleh karena itu, kejujuran perlu menjadi keutamaan atau kekuataan moral kita dalam beriman. Agar menjadi keutamaan moral kejujuran perlu dipupuk sebagai kebijaksanaan. Jujur tidak sama dengan polos. Jujur itu mendengarkan suara hati yang mau melindungi martabat kita sebagai manusia, citra Allah.

Semoga ini berguna bagi kita untuk terus setia memelihara rahmat keselamatan kita yang sudah kita terima melalui Yesus Kristus.

Doa Singkat:

“Selamatkanlah kami Ya Tuhan dari tangan mereka yang masih membenci kami, ya Tuhan. Tuntunlah kami di jalan kasihMu, dalam Kristus Yesus, Pengantara kami. Amin. “

Salam,
eMYe

-ditulis oleh eMYe-

Paradok Cinta

 

Engkau katakan suci
Di tengah serbuan benci.
Aku bilang merah
Engkau katakan darah
Aku bilang kemarin
Engkau katakan hari ini ingkar.

Dunia manusia memang aneh
Yang satu menangis
Yang lain tertawa
Seorang sedang berduka
Lain orang mabuk berpesta.

Kulihat bintang tak indah berkedip
Di langit penuh polusi debu
Angin tak mampu menyibak
Dan pandangku tak mampu menembus
Tebalnya kabut debu di udara yang tebal.

Bila langit ada di hati manusia
Dan bintang-bintang itu nurani sahaja
Adakah mata yang mampu mengerti
Dalamnya gerak batinnya ?

Bila langit adalah wajah kita
Dan bintang-bintang adalah harapan cita
Adakah makhluk yang mengenal cinta
Yang harus dihidupi dalam luka ?

Aku harus bilang apa
Bila dunia terus mendera
Hingga ke ujung Golgota ?

Ah, paradoks cinta.

Cinta itu wajah kita yang terluka.

Cinta itu sepiring nasi dalam gubug yang sama.

Cinta itu curam dalam di ketinggiannya.

Cinta itu sederhana ketika orang masuk di dalamnya.

Cinta itu gamblang dalam kerumitan perasaannya.

Cinta itu merangkul untuk melepaskannya dengan merdeka.

Cinta itu mengikatkan diri untuk bebas terbang ke angkasa.

Cinta itu, betapa pun kecilnya, tak pernah sia-sia.

Cinta itu betapa pun tersembunyinya, nyata dalam perbuatannya.

Cinta itu betapa pun heboh perayaannya mengandung susah derita.

Jadi, rayakan saja apa adanya.

Selamat Hari Kasih Sayang!

 

-eMYe-

(ditulis oleh eMYe)

Taman Doa Keluarga Kesayangan Allah; apa sih?

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di berbagai bidang membawa begitu banyak perubahan kehidupan manusia di berbagai segi kehidupannya. Kehidupan keluarga-keluarga tidak dapat terlepas dari berbagai dampak perubahan tersebut. Ada banyak keluarga tidak dapat menikmati perkembangan itu, atau bahkan menjadi korban darinya. Keluarga pecah karena adanya tekanan sosial ekonomi yang berat, sistem kemasyarakatan yang mengagungkan sisi keduniawi-materialistis semakin memperparah wajah kemiskinan keluarga yang sudah minim dalam relasi kasih di antara mereka.

Pada sisi lain, banyak juga keluarga yang dapat berlayar dengan lancar dan bahagia di arus perubahan tersebut karena kokohnya tradisi nilai-nilai luhur dan mulia yang selalu dipegang kuat oleh setiap anggota keluarga yang ada, terutama karena adanya kemauan dan kesetiaan untuk mendasarkan hidup pribadi dan hidup bersama pada kasih manusiawi dan ilahi.

Pada tahun lalu, 2017, Paroki Santo Isidorus Sukorejo merayakan rangkaian pesta: 90 tahun baptisan pertama, 60 tahun menjadi paroki, 40 tahun adanya Asrama Manik Hargo, dan syukur telah terbangunnya gereja dan kapel di paroki, wilayah, dan lingkungan sebagai sarana berjemaah dan beribadat umat Allah. Rangkaian perayaan ini menyadarkan dan membangkitkan rasa “Syukur: Diutus Untuk Mewujudkan Peradaban Kasih” di dalam kehidupan bersama. Peradaban kasih akan dapat dimulai bila keluarga-keluarga hidup di dalam suasana kasih yang menyejahterakan, bermartabat, dan beriman mendalam. Oleh karena itu, umat Paroki berketetapan hati untuk mulai, melanjutkan, memantapkan diri untuk membangun “Keluarga Kesayangan Allah” seturut teladan Keluarga Kudus Tuhan Yesus, Bunda Maria, dan Santo Yusup.

Sebagai tanda kesungguhan dan ketetapan niat ini, umat Paroki Santo Isidorus hendak membangun suatu “Taman Doa Keluarga Kesayangan Allah”. Dari dan di taman doa ini, baik secara pribadi maupun dalam kebersamaan, setiap anggota keluarga menyadari kembali dan bersyukur atas kehadiran kasih Allah di setiap peristiwa kehidupan keluarga. Di taman doa ini, anggota keluarga dapat memohon agar keluarganya menjadi keluarga kesayangan Allah, sebagaimana Keluarga Kudus yang hidup damai dan bahagia. Semoga Taman Doa Keluarga Kesayangan Allah juga menjadi sarana perwujudan dan pewartaan peradaban kasih di dalam kehidupan seluruh keluarga manusia, keluarga anak-anak Allah.

Semoga kehendak suci Allah, sebagaimana diwartakan oleh Kristus dan GerejaNya,  untuk menjadikan setiap manusia anak Allah di dalam Kristus dapat terwujudnyatakan. Marilah kita wujudkan suatu peradaban kasih, yang ditandai  dengan bahwa setiap keluarga tumbuh dan berkembang sebagai keluarga kesayangan Allah di dalam kehidupan ini.

Peringatan Hari Orang Sakit Sedunia 2019

Paroki St. Isidorus Sukorejo memperingatan Hari Orang Sakit Sedunia (HOSS) tahun 2019 pada hari Minggu, 17 Februari 2019. Peringatan HOSS kali ini disiapkan dan dikoordinir oleh Sr. Maria Yuliana, SND dan dr. Irene Sulasih selaku timja kesehatan, yang masuk pada bidang kemasyarakatan dalam susunan Dewan Paroki. HOSS dilaksanakan di 2 lokasi, yaitu di Gereja Katolik St. Isidoruspada pagi hari  dan di Gereja Hyang Triniji Suci Ngaliyan pada sore hari.

HOSS di Sukorejo

HOSS di Gereja Katolik St. Isidorus Sukorejo dilaksanakan bersamaan dengan Misa Novena ke-5 Pembangunan Keluarga dan Taman Doa Keluarga Kesayangan Allah. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Rm. Albanus Padmawardaya, SJ. Pada kesempatan itu diberikan sakramen pengurapan orang sakit kepada sekitar 135 umat yang sedang sakit maupun para lansia, dan beberapa umat yang memang membutuhkan. Umat yang menerima Sakramen Pengurapan berasal dari Sukorejo, Gebangan, Plantungan, Bendosari, Pageruyung, dan Kalimanggis.

Panitia bersama dengan KSR PMI Kec. Sukorejo memberikan pelayanan penjemputan kepada umat yang mengalami kesulitan untuk bisa datang ke Gereja. Dengan menggunakan mobil ambulance milik Puskesmas Pageruyung, personil dari KSR PMI di dampingi oleh Ibu dr. Irene Sulasih menjemput umat di dusun Sapen. Pasien harus tetap berada di brankar (bed), karena kondisi kesehatannya, sehingga sepanjang Ekaristi pasien didampingi oleh personil KSR dan panitia.

 

HOSS di Ngaliyan

Selain di Gereja induk Sukorejo, HOSS tahun ini juga diadakan di Gereja Ngaliyan. Umat yang akan menerima Sakramen Pengurapan  berasal dari wilayah Ngaliyan, Lingkungan St. Agustinus Krandegan, Lingkungan St. Yusuf Pilangsari, dan Lingkungan St. Agustinus Gemuh Singkalan. Sekitar 165 umat yang sakit, dan lansia menerima Sakramen Pengurapan dari tangan Rm. Thomas Septi Widhiyudana, SJ dan Rm. Albanus Padmawardaya, SJ.

Sama seperti yang dilakukan di Sukorejo, panitia dibantu oleh personil KSR Kec. Sukorejo memberikan pelayanan untuk menjemput umat yang membutuhkan dari rumah menuju Gereja. Kali ini umat yang harus dijemput cukup banyak, karena kebanyakan umat di wilayah Ngaliyan adalah lansia.

 

Pemberian Penghargaan Kepada Sahabat Relawan PMI Kec. Sukorejo

Gereja memberikan apresiasi dan penghargaan kepada para anggota KSR (Korps Sukarela) PMI Kec. Sukorejo. Para relawan ini sudah membantu dalam proses evakuasi umat yang akan mengikuti kegiatan HOSS di Sukorejo dan Ngaliyan. Sebelumnya mereka juga sudah dengan tulus dan setia membantu beberapa kegiatan di Paroki antara lain: pengobatan gratis, donor darah, gathering, pesta paroki, dan pengembangan kepribadian anak-anak Asrama Manik Hargo. Semoga dengan kehadiran mereka umat semakin bisa memahami pentingnya berbagi, melayani dengan tulus tanpa melihat latar belakang. SD.

Perayaan Natal Rayon Keris 2018

-Rayon Keris terdiri dari Paroki St. Isidorus Sukorejo, Paroki St. Martinus Weleri, dan Paroki St. Antonius Padua Kendal-

Perayaan Natal Rayon Keris tahun 2018 dilaksanakan di Paroki St. Martinus Weleri pada hari Selasa, 8 Januari 2018. Perayaan Natal dihadiri oleh Romo Paroki, Dewan Paroki, Panitia Natal dari Paroki St. Martinus Weleri, Paroki St. Isidorus Sukorejo, dan Paroki St. Isidorus Sukorejo.

Perayaan Natal ini sudah menjadi agenda rutin rayon, dimana masing-masing Paroki akan berbagi pengalaman tentang kegiatan Natal yang telah dilaksanakan.

Galery Foto