Suket Teki

-Cerita Kecil-

“Suket Teki” (Rumput Teki)

Di kebun sayur ada banyak rumput teki. Bahkan tumbuhnya bisa lebih cepat daripada sayurannya. Kalau tidak rajin menyianginya, tanah yang sudah dicangkul akan cepat penuh dengan rumput liar itu.

Munculnya rumput itu sering bikin kecewa karena mengganggu pertumbuhan tanaman yang diharapkan bisa lebih berguna untuk dimakan.

Saking liarnya, saking mudah bikin kecewanya, sampai-sampai Didi Kempot almarhum pun mengambil metafor rumput teki dalam lagunya. Syairnya: “tak tandur pari, jebul thukule malah suket teki” (aku telah menanam padi, tetapi malahan yang tumbuh rumput teki). Sebuah gambaran kekecewaan dalam percintaan. Sudah banyak berbuat baik, mungkin juga sudah habis-habisan mencintai pacar, tetapi balasannya malah mengecewakan dan menyakitkan.

Itulah pengalaman sehari-hari kita. Bukan hanya soal percintaan, tetapi dalam pergaulan sosial kita. Kebaikan kita mudah sekali dibalas dengan kebencian dan pengkhianatan. Entah itu pemimpin, entah orang biasa, tentu pernah mengalaminya.

Memang “suket teki” itu tanaman yang jauh lebih kecil dibandingkan tanaman padi, apalagi sayuran. Namun biasanya, meskipun kecil, rumput itu bisa tumbuh banyak sekali.

Gambaran itu menunjuk pada penyakit iri dan kebencian yang mudah sekali tumbuh di hati manusia, dan mudah sekali menyebar. Meskipun kecil, rasa iri dan benci tetap menyakitkan. Butuh jiwa besar untuk menghadapinya.

Rumput teki yang kecil itu memiliki akar yang pahit. Bisa dipakai untuk obat katanya, menambah kekuatan dan daya tahan. Begitu pula kepahitan-kepahitan hidup yang kita alami setiap hari, bisa menjadi kekuatan kita menghadapi tantangan yang lebih besar.

Semoga di tengah tantangan besar wabah corona ini, kita tetap kuat meski kadang harus menghadapi perlawanan, kebandelan orang yang tidak disiplin diri. Tetap menebar kebaikan dengan berjarak dan setia pada anjuran yang berwenang akan bisa membantu melewati masa krisis ini.

Salam sehat.
eMYe

-ditulis oleh eMYe-

Ranting Tanjung Kering

-Cerita Kecil-

“Ranting Tanjung Kering”

Di taman ada pohon tanjung yang disukai burung-burung untuk bersarang. Bukan hanya burung yang suka, juga tupai-tupai pun kelihatan gembira karena buahnya yang kecil ada sepanjang tahun. Ketika pohon-pohon sekitarnya sudah tidak berbuah, pohon tanjung masih memberikan buahnya yang sangat kecil-kecil.

Pohon tanjung biasa ditempatkan di taman atau pelataran depan rumah, bukan hanya untuk perindang dan pengasri, tetapi bisa dipakai untuk menghadirkan lambang keramahtamahan (hospitality). Mengapa?

Kalau boleh dikeratabahasakan, tanjung itu “tresna jinunjung”. Maksudnya, bisa kita artikan tanaman itu menyambut setiap orang yang datang dengan menjunjung hormat, bukan permusuhan. Setiap orang yang datang disambut. Setelah merasakan disambut, setiap tamu yang hadir diharapkan krasan.

Begitu juga harapan bagi orang muda yang datang, bukan hanya krasan tetapi lalu terpikat hatinya menanggapi panggilan Tuhan untuk tinggal menjadi bagian dalam persekutuan dan perutusan yang sama.

Pagi ini tampak ada ranting pohon tanjung yang patah dan jatuh karena memang sudah kering. Padahal kayu tanjung itu termasuk kayu yang sangat keras. Toh demikian, begitu kering, ia pun patah.

Yang namanya ranting memang tidak bisa hidup lepas dari batang pohon. Begitu lepas, yah hanya menjadi kayu bakar.

Kiranya hidup kita pun tak ubahnya sebagai ranting. Hidup kita bergantung pada Sang Sumbernya. Lepas dari sumber itu, hidup kita tidak ada dayanya, dan layu lalu mati ditelan bumi.

Menyadari kenyataan itu, masa pandemi corona ini menjadi kesempatan kita untuk semakin dekat dan bersatu dengan Sang Pemberi hidup. Sewaktu-waktu hidup kita dicabut, dan bagai kayu kering rontok. Sebelum rontok, semoga masih bisa berbuah.

Seperti juga pohon tanjung, yang bisa melambangkan “hidup dijunjung”, selama masih bernafas, alangkah indahnya masih bisa saling menyanjung, menghormati dan berempati.

Adalah kesombongan belaka, kita mengatakan, “Aku tak butuh itu.” Sedingin-dinginya cinta, sekering-keringnya kasih sayang, pujian dan dukungan, perhatian dan bantuan, tetaplah masih perlu dihadirkan sebagai ungkapannya.

Ranting kering itu masih tergeletak di bawah pohon tanjung. Tupai masih berlari berkejaran di dedahanan. Kegembiraan masih ada meskipun si kering telah terjatuh tidak berdaya. Alangkah bahagianya ranting dan dahan yang masih bisa menjadi tempat bermain dan bercanda burung dan tupai di sana.

Bahagia itu memberi ruang hidup bagi sesama.

13 Mei 2020
Salam sehat
eMYe

-ditulis oleh eMYe-

 Doa Maria Saat Yesus Menderita

-Kontemplasi-

(Di sudut biliknya, Maria terpaku diam dalam doa, setelah mendengar berita Yesus ditangkap. Batinnya bergumul dalam diam, dalam doa.)

Ya Tuhan, inikah misteriMu yang harus kukandung terus, melihat PuteraMu didera berbagai hasutan dan pengkhianatan, penolakan oleh bangsaku sendiri.

Kuingat kembali salam malaikat dulu kepadaku, yang kini terasa seperti sebilah belati menusuk hatiku pedih.
Aku telah menjawabnya, ya aku ini hambaMu, seluruh diriku milikMu.
Namun. Haruskah aku menyaksikan peluh darah menetes dari luka deritaNya? Bukankah derita dan sakitNya juga derita dan sakitku juga?

Ya aku hanyalah hamba sahayaMu.

Kata pun tak cukup mengandung semua misteriMu yang tak terselami. Rasa tak cukup menampung jalanMu yang penuh kelokan liku.

Aku ini hanya hamba sahayaMu yang lemah, mampu apakah aku bagi misteri karyaMu yang gelap penuh?

Aku ini hamba sahayaMu, jadilah padaku menurut kehendakMu, meski sedih dan perih seluruh, kuasaMu lebih kuat daripada gerak bumi seluruh.

Apapun yang terjadi itu, biarlah aku sedekat dan setubuh yang penuh peluh, dan darah di tubuh, tanpa keluh; biarlah rahimku kembali penuh oleh sabdaMu yang berteduh, biarlah air susuku direguk menghilangkan dan mengusap tangis keluh yang tak terucap sungguh.

Aku ini hamba sahayaMu sungguh, yang pernah merasakan manis tangis PuteraMu dalam peluk tidur, dalam gendonganku hangatNya masih kurasa dalam ruh.

Kini peluk dan gendong itu kuberikan padaNya, dalam manis dan hangat darah di luka-lukaNya.

Kini peluk dan gendongku terbuka juga bagiNya dalam duka.

Kini, cium sayangku merengkuh juga deritaNya. Aku satu dalam luka-lukaNya, sebagaimana aku satu dalam tangis kelahiranNya.

Sakit melahirkan Dia, adalah sakit bahagia. Namun kini kutahu, sakit itu pula yang membuat satu dalam deritaNya.

Aku ini hamba sahayaMu ya Tuhan, terjadilah semua itu seturut kehendakMu.

Jangan biarkan rencanaMu terhalang oleh ketakutanku kehilangan Dia.
Jangan biarkan airmata meneteskan duka dusta, yang menggantikan darah penyelamatanNya.

Ya Tuhan, inikah misteri salam malaikatMu dulu?
Inikah jalan menjadi ibu PuteraMu?

Aku ini hamba sahayaMu, terjadilah padaku menurut kehendakMu.

Jadilah menurut kehendakMu.
Jadilah menurut kehendakMu.
Jadilah menurut kehendakMu.

-ditulis oleh eMYe-

“Quid est veritas?”

“Quid est veritas?”

Ungkapan Latin di atas merupakan pertanyaan Pilatus pada Yesus. Artinya “Apakah itu kebenaran?”

Yesus tidak menjawab pertanyaan itu. Mengapa?

Bisa jadi karena Yesus tahu bahwa seandainya pun Ia menjawab itu, Pilatus tak akan mengubah jalan Salib yang akan dijalani Yesus.

Atau bisa jadi, Yesus sedang membiarkan Pilatus terombang-ambing oleh pertanyaan itu sendiri. Yesus membiarkan Pilatus mencari jawabannya sendiri.

Bacaan dari Imamat ini mengingatkan bahwa kasih itu diungkapkan terutama dalam keadilan. Mari kita camkan:

“Tuhan berfirman kepada Musa,
“Berbicaralah kepada segenap jemaah Israel
dan katakan kepada mereka:
Kuduslah kamu, sebab Aku, Tuhan Allahmu, kudus.
Janganlah kamu mencuri,
janganlah kamu berbohong
dan janganlah berdusta seorang kepada sesamanya.
Janganlah kamu bersumpah dusta demi nama-Ku,
supaya engkau jangan melanggar kekudusan nama Allahmu;
Akulah Tuhan.
Janganlah engkau memeras sesamamu manusia
dan janganlah merampas;
janganlah kautahan upah seorang pekerja harian
sampai besok harinya.
Janganlah kaukutuki orang tuli,
dan di depan orang buta janganlah kautaruh batu sandungan;
engkau harus takut akan Allahmu;
Akulah Tuhan.
Janganlah kamu berbuat curang dalam peradilan;
janganlah membela orang kecil secara tidak wajar,
dan janganlah engkau terpengaruh oleh orang-orang besar,
tetapi engkau harus mengadili orang sesamamu dengan kebenaran.
Janganlah engkau pergi kian ke mari menyebarkan fitnah
di antara orang-orang sebangsamu;
janganlah engkau mengancam hidup sesamamu manusia;
Akulah Tuhan.
Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu,
tetapi engkau harus berterus terang menegur sesamamu,
dan janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu
karena dia.
Janganlah engkau menuntut balas,
dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu,
melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri;
Akulah Tuhan.” (Im 19:1-2.11-18)

Kalau begitu, sudahkah Pilatus mengadili dengan kebenaran ketika hatinya terombang-ambing?

Dalam tradisi filsafat skolastik, kebenaran diterjemahkan sebagai “kesesuaian pengetahuan dengan kenyataan” (adeguatio rei intellectus).

Banyak problem sosial dan relasi dalam keluarga dan sesama dalam masyarakat berakar pada rusaknya keadilan itu.

Ketika kita memandang orang lain bukan sebagai sesama manusia, nah mulailah ketidakadilan itu. Manusia bisa menjadi monster yang siap memakan sesamanya yang lemah, baik lemah secara ekonomi, sosial maupun lemah fisik. Gejala bullying dan kekerasan fisik yang marak itu menandakan ada pola relasi yang terlanjur. rusak tetapi dianggap biasa, bahkan dianggap bagian kultur manusia.

Masih adakah kebenaran itu? Masihkah kita,mencari dan menemukannya? Ataukah kita sebetulnya tidak peduli, dan berpuas diri hidup ikut insting saja? Dimana jatidiri rohani kita sebagai anak-anak Allah, yang mau hidup dalam tuntunan RohNya yakni hidup dalam kasih dan keadilan?

Kasih dan keadilan perlu mulai dari hati dan pikiran .

Salam kasih dan keadilan.
eMYe

-ditulis oleh eMYe-

Blekok

-Cerita Kecil-

Blekok adalah sejenis burung yang biasanya memakan ikan atau kepiting di sawah.

Ketika aku berjalan menyusuri sawah yang hijau, ada suatu hiburan lain ketika melihat burung blekok putih terbang di atas sawah.

Blekok yang berwarna putih itu seperti malaikat penghibur bagiku. Tetapi barangkali bagi kepiting-kepiting sawah, blekok itu adalah malaikat pencabut nyawa.

Ada sawah hijau. Ada air yang melimpah sedang mengairi sawah. Muncul di sawah itu berbagai jenis satwa dari belalang hijau, belalang kayu dan katak-katak. Muncul juga hewan air, kepiting, belut, lintah dan ikan-ikan. Makhluk hidup itu seperti tiba-tiba bermunculan di persawahan yang dialiri air. entah darimana datangnya aku tidak tahu. itu suatu hal yang menakjubkan.

Barangkali itulah yang disebut siklus kehidupan. Ada waktunya ciptaan pergi, ada waktunya ciptaan itu bergilir hadir. Makhluk hidup memang datang dan pergi.

Namun, blekok putih itu menarik perhatianku tersendiri. Dia muncul dengan gagah di tengah sawah. Kadang terbang menukik dan singgah sebentar untuk mengambil mangsa. Lalu terbang lagi, berputar. Singgah lagi, beraksi dengan paruhnya mematuk mangsa yang terlena.

Dia konsisten dengan pola dan geraknya. Dia tidak pura-pura. Dia datang baju putihnya, namun ganas dengan paruhnya.

Diam-diam aku kagum memandangnya.

Bisakah manusia belajar untuk setia dan konsisten terhadap keluhuran hidupnya? Ya, manusia disebut berasal dari debu tetapi dihembusi nafas ilahi. Maka, manusia terus menerus ada dalam tarik menarik antara hidup mengikuti kecenderungan duniawi dan hidup mengikuti kecenderungan roh ilahi. Lalu, konsisten bagi manusia itu barang mahal.

Ada yang menyebut “mencla-mencle” atau “pagi dele, sore tempe”. Hari-hari manusia memang seperti rumput di padang yang terombang-ambing. Begitukah kita?

Eh, betapa celakanya kita kalau terus terombang-ambing. Maka, konsisten untuk menjaga keluhuran itu bukan paket jadi. Manusia diberi kehendak bebas untuk memilih dan menentukan dirinya. Manusia bukan robot. Manusia bukan blekok yang hidup mengikuti insting.

Menjadi manusia itu adalah pilihan kita. Kitalah yang bertanggungjawab atas pilihan hari ini. Pilihan hari ini menentukan keluhuran kita.

Bagaimana itu ya? Yah, latihan menjadi luhur ya dengan mengalahkan kecenderungan insting ego kita. Maka, puasa dan pantang itu salah satu saranya untuk mengalahkan nafsu insting kita. Ada lagi sarana yang positif yakni berdoa, membaca tulisan suci, dan melakukan segala yang baik sebagai perwujudan amal kasih.

Itu semua membantu kita untuk memberi ruang bagi kemerdekaan roh dalam diri kita. Ingat loh, kita bukan hanya makhluk jasmani, tetapi juga makhluk rohani.

Ah, betapa enaknya menjadi blekok ya tak hidup dalam ketegangan itu seperti manusia. Tapi blekok pun mempunyai nasibnya sendiri. Kalau ditangkap orang bisa digoreng menjadi teman nasi.😀

Bagaimana pun kita bersyukur diberi kebebasan untuk memilih dalam ketegangan tiap hari. Hidup bahagia bagi manusia itu karena ia berani memilih yang luhur. Hidup manusia yang membiarkan diri tanpa berani memilih justru membuat jatidirinya hancur, dan merosot ke dalam lumpur.

Aku pandang blekok itu terbang menjauh. Ia terbang ke selatan, entah kemana. Ia,menghilang di telan awan.

Aku langkahkan kaki pulang, melewati jalan sawah yang berlumpur. Kesegaran kurasakan setelah sepagian itu berjalan di tengah lumpur.

Salam pertobatan
eMYe

 

-ditulis oleh eMYe-

Rabu Abu

-Katekese Singkat-

“Quaresima” & Rabu Abu

Masa persiapan Paskah disebut juga masa Prapaskah. Dalam bahasa Latin disebut “Quaresima” atau “Quadragessima” yang artinya 40 hari sebelum Paskah. Ini mengingatkan juga masa 40 tahun bangsa Israel berada di padang gurun sebelum masuk tanah terjanji.

Bagi kita, masa 40 hari sebagai masa retret pertobatan yang diawali dengan menandai diri kita dengan abu.

Mengapa abu?

Abu mengingatkan bahwa manusia diciptakan dari debu dan dihembusi nafas ilahi (Kej. 2:7).

Abu mengingatkan asal manusia yang rendah, tak berharga di mata Tuhan namun Tuhan telah berkenan mengangkatnya. Maka, berkat Roh Allah yang menghidupkan, manusia itu pada hakekatnya luhur dan mulia.

Meskipun manusia terikat pada debu sebagai asalnya, namun manusia mampu menempatkan keterikatan itu secara tidak mutlak. Semua keterikatan pada dunia itu sarana bagi kita untuk hidup memuliakan Allah.

Nah, dalam rangka itu, doa, puasa dan amal kasih menjadi latihannya.

Pantang dan puasa adalah sarana latihan untuk tidak melulu tergantung pada pemenuhan kebutuhan makan dan minum.

Doa adalah sarana latihan untuk terus menerus hidup dalam persekutuan dengan Allah. Doa adalah sikap keterbukaan untuk mengikuti tuntunan Roh Allah. Ingat, kita hidup karena diberi nafas ilahi.

Amal kasih adalah sarana hidup selaras dengan kehendak Allah. Apa kehendak Allah itu? Kehendak Allah itu hanya mengasihi. Jadi kalau mau selaras dengan kehendakNya, hiduplah dalam jalan kasih. Sebab, Allah itu kasih! “Deus caritas est.”

Jadi masa Prapaskah adalah mssa kita kembali pada Allah, pada jati diri kita sebagai makhluk rohani, dan sebagai anak-anak Allah.

Abu mendai pengakuan diri kita yang rendah, melulu bergantung pada roh Allah. Tidak ada sikap tobat yang tepat kecuali merendahkan diri kita.

Selamat menjalani padang gurun pertobatan kita agar masuk kembali menjadi bagian dari anak-anak Allah yang akan kita rayakan pada Paskah nanti.

“Gloria Dei, vivens homo” (St. Ireneus). Allah dimuliakan ketika kita sungguh hidup sebagai manusia. Maka, semakin manusiawi, semakin ilahi.

Salam pertobatan
eMYe

ditulis oleh eMYe –

Wedang Ronde

-Cerita Kecil-

Semalam rame-rame diajak ngeronde. Apa sih asyiknya minum wedang ronde? Di tepi jalan lagi?

Wedang ronde itu minuman hangat dari jahe dengan gula merah manis yang ditambah sesuatu yang khas, yakni bola sagu isi kacang. Bila di minum malam-malam akan menambah kehangatan tubuh.

Ah, minum manis malam-malam gak bagus untuk diet. Iya sih, tapi aku tidak bisa melewatkan kehangatan lain, yakni perjumpaan dengan teman-teman.

Nah, asyiknya minum ronde itu memberi kehangatan persaudaraan itu.

Ya, semua rindu persaudaraan. Apalagi di tengah jaman yang digerus serba mesin dan digital, bahkan di lingkungan suci pelayanan gereja, persaudaraan bisa mudah retak oleh perkara sepele. Ladang pelayanan bisa menjadi ladang perseteruan.

Mengapa itu mudah terjadi bahkan di lingkup keluarga? Barangkali karena kita terjebak dalam dinamika kerja seperti mesin. Pelayanan juga masuk ke mesin. Harus ada out put yang bisa diukur. Semua lalu kejar hasil, mesti hati dikorbankan dan menjadi kerdil. Hilang waktu dan kesempatan duduk bersama untuk sekedar bercengkerama. Kalau bertemu toh hanya sekedar tanya hasil kerjanya.

Kalau toh ada, itu pun barangkali sambil meringis menjawab tanya kapan lagi rapat kerja ? Kapan selesai targetnya? Sampai dimana urusannya?

Kapan hati kita saling menyapa dan disapa? Ah, pertanyaan sok suci ini. Itu kekanak-kanakan. Dunia dewasa itu kerja, produktif gitu. Jangan melankolis. Manja ah…

Tentu bukan salah juga itu. Memang dunia mesin selalu dituntun hasil. Bermelo-melo, apalagi bisa nongkrong minum wedang ronde ah itu buang waktu gue.

Hmm…perjumpaan yang otentik memang sering terjadi di momen yang dianggap “buang waktu”. Di saat kita bisa rileks, tertawa dan menangis dengan bebas.

Hari-hari kita itu seperti bunga di padang. Pagi mekar, sore bisa cepat layu. Tetapi berbahagialah yang bisa menangkap singkatnya waktu. Kesementaraan itu berharga justru ketika aku dan kamu, kita semua, bisa hidup mekar sepenuh kalbu. Bunga mekar memberi keindahan dalam singkatnya waktu. Persaudaraan kita memberikan sukacita dalam sementaranya hidup di dunia kita.

Berbahagialah yang setia dalam karya-karya yang baik dan dalam pelayanan, meskipun ketidaksempurnaan dan kelemahan sering membuat kita kecewa.

Salam kasih persaudaraan.

eMYe

-ditulis oleh eMYe-

Jangan Mencari Kekayaaan Namun Carilah Kesucian

Marto

Selama hidup saya, ada dua kesempatan dimana saya berada di tengah-tengah umat Paroki St. Isidorus Sukorejo. Sebelumnya, saya malang melintang bekerja di proyek pengairan Kulon Progo, karyawan PTPN XVIII, lalu sempat juga mengikuti program pemerintah transmigrasi ke Lampung pada tahun 1976 sampai 1984.

Pertama kali di Sukorejo, pada tahun 1969 sampai tahun 1976, saya bertugas sebagai koster Gereja St. Isidorus. Romo yang bertugas disana adalah Romo F. Knetsch, SJ dan dilanjutkan Rm. Aloysius Rochadi Pradjasuta, SJ. Hidup sebagai koster, saya sangat senang karena bisa tinggal di gereja, mengenal saudara-saudara yang seiman, ikut misa setiap pagi, dan jalan-jalan ke stasi dan wilayah. Selain melakukan tugas-tugas di gereja, saya juga bekerja sebagai tukang. Saya masih ingat, waktu itu turut serta dalam pembangunan gedung SD Kanisius Sanjaya(1). Kemudian di tahun 1976, saya sempat meninggalkan Paroki Santo Isidorus Sukorejo karena transmigrasi ke Lampung. Setelah beberapa tahun di Lampung kemudian saya kembali lagi ke Sukorejo.

Saya kembali lagi ke lingkungan Gereja saat Romo Mikhael Windyatmaka, SJ bertugas sebagai pastor paroki. Saat itu saya bukan lagi sebagai koster namun pekerja serabutan. Pekerjaan saya masih di seputar Gereja dan ikut membangun dan memperbaiki kapel yang ada di sekitar Sukorejo. Sejak mulai pertama bekerja sebagai koster, saya merasakan setiap hari selalu senang. Apalagi jika saya bertemu dengan romo yang sering memberi uang  yaitu Romo Knetsch dan Romo Prajasuta.

Saat saya bekerja sebagai tenaga serabutan setelah dari Lampung, romo yang bertugas juga sangat memperhatikan dan mempedulikan saya. Romo yang saya ingat waktu itu Romo Mikhael, Romo Yadi, Romo Roni, dan Romo Agus.  Saya tidak pernah mengalami duka karena saya nderek Yesus, nggih bungah mawon.”

Untuk umat Paroki Sukorejo, saya berharap semua bisa rukun, menjalankan misa dengan hormat, jika bisa silahkan mengikuti misa setiap pagi, jika tidak bisa silahkan mengikuti misa mingguan. Sesungguhnya dalam hidup ini kita jangan mencari kekayaan namun kesucian. Jika sudah tiba saatnya, kita bisa menghadap dengan tenang, “nderek Gusti saklawase.”

 

Sukorejo, 03 Agustus 2017

Bernadus Rajiman Marto Wiharjo

Pernah bekerja sebagai Koster dan pekerja lepas di Paroki Santo Isidorus Sukorejo

 

-diambil dari Buku Kenangan 90 tahun Paroki St. Isidorus Sukorejo-

Dananya dari mana?

Kapel St. Paulus Gebangan terletak di Kp. Baru RT. 1 RW. 3 Desa Gebangan Kec. Pageruyung Kab. Kendal, dibangun pada tahun 1982 oleh umat generasi pertama yang diprakarsai dan didanai oleh Bp. Suparmanyu seorang Sinder Kebun Afdeling Gebangan Kebun Sukomangli PTPN IX Nusantara pada waktu itu dengan Pastor Paroki Sukorejo Rm. Albanus Pramana Padmawardaya SJ. Kapel dengan ukuran 7 x 14 m tersebut menampung sekitar 50 KK yang dibaptis perdana tahun 1980 di Ngloji rumah dinas Bp. Suparmanyu. Dalam perjalanannya,  kapel tersebut mengalami beberapa kali renovasi dan penambahan ruangan. Namun dalam perkembangannya kondisi kapel makin memprihatinkan karena kurang mendapat perhatian dari umat. Hal seperti ini bisa dimengerti mengingat kondisi ekonomi umat setempat, sehingga  banyak umat yang keluar dari gereja dengan berbagai alasan, seperti ekonomi, perkawinan, politik, SDM dan lain-lain. Hal ini menjadi suatu keprihatinan yang mendalam bagi umat yang kini tinggal 40 KK.
Rupanya doa dan harapan umat akan kerinduan sebuah tempat ibadah yang pantas dan layak segera terwujud dengan disetujuinya permohonan renovasi Gereja St. Paulus Gebangan oleh Pastor kepala Paroki Sukorejo yaitu Rm. Ignatius Dradjat Soesilo, SJ pada tahun 2011, maka segera dilaksanakan peletakan batu pertama dengan prosesi yang dihadiri oleh umat, para tokoh umat non Katolik , Muspika dan Rm. Yohanes Agus Setiyono, SJ . Sejak saat itu pembangunan terus berlangsung, bahu membahu antara panitia dan umat, juga keterlibatan dari umat lain yang begitu antusias karena begitu besar harapan umat agar segera terwujud sebuah Kapel yang bagus. Meskipun dalam perjalanannya timbul pertanyaan-pertanyaan yang mengusik hati dananya dari mana? Status tanahnya belum jelas,  seperti apa kalau jadi? Kapan jadinya dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang lain. Seiring dengan bergeraknya waktu satu persatu pertanyaan itu terjawab, sungguh Roh Tuhan bekerja itu sungguh nyata. Kini telah berdiri sebuah kapel yang megah, semakin menjadikan umat intim dengan Allah dan memotivasi umat lain untuk membangun tempat ibadahnya.
Umat bersyukur pada Allah yang telah memberikan rahmat yang begitu melimpah sehingga pembangunan gereja dapat terwujud lewat orang-orang yang dipercaya seperti Rm. Ignatius Dradjat Soesilo, SJ, para donatur dan semua orang yang terlibat.
Semoga kehadiran Kapel St. Paulus ini menjadi berkat bagi sesama dan umat semakin memiliki iman yang mendalam dan tangguh.

BERKAH DALEM.

Antonius Sisworo

(diedit dari tulisan Bpk. Antonius Sisworo, 2012)

Umat Kini Menjadi Semangat dan Rajin Pergi ke Kapel

Umat kini menjadi semangat dan rajin pergi ke kapel,,,

Kapel Gemuh Singkalan pertama ada  sekitar tahun 80-an. Bangunan Kapel yang pertama berbahan kayu, beratap daun ilalang serta pagar dari anyaman bambu. Walaupun kapel sangat sederhana dan memprihatinkan tetapi umat tetap semangat dalam kegiatan menggereja.

Kapel yang kedua menumpang dirumah Bapak Kasmin (alm) karena Kapel yang pertama rusak. Walaupun hanya menumpang tetapi umat tetap bersemangat untuk pergi ke Kapel. Setelah itu umat kembali mempunyai inisiatif untuk membangun kapel, walaupun dengan material yang sangat sederhana. Material batu dan pasir kami ambil dari sungai “kalibodri” kemudian semen yang kami pakai dicampur dengan kapur putih, tetapi bangunan tersebut tidak tahan lama. Kemudian umat berinisiatif lagi untuk membangun kapel yang kokoh, meskipun umat hanya sebatas  bisa membangun pondasi saja. Pondasi juga hanya menganggur karena keterbatasan biaya untuk melanjutkan bangunan kapel.

Setelah itu datanglah Rm. M Windiatmoko, SJ ke Paroki St. Isidorus Sukorejo sebagai pastor paroki, barulah kapel Gemuh Singkalan mulai dibangun sekitar tahun 2000. Umat bersama Romo mulai membangun Kapel dengan segala keterbatasan yang mereka miliki.

Beberapa lama setelah bangunan jadi, cat dinding Kapel mulai memudar, tetapi umat tidak memiliki biaya untuk melakukan pengecatan ulang. Uang kas lingkungan juga pas-pasan untuk kebutuhan kapel. Setelah datangnya Romo Ignatius Dradjat Soesilo, SJ ke Paroki St. Isidorus Sukorejo, umat mempunyai inisiatif untuk merenovasi  kapel dserta memasang paving di samping kapel. Saya beserta bapak ketua lingkungan datang menemui Romo Dradjat. Kami dan Romo Dradjat bermusyawarah dengan umat untuk membahas hal tersebut. Akhirnya Romo menyetujui dan akhirnya kapel direnovasi.

Seluruh umat lingkungan Gemuh membantu tukang secara bergiliran entah itu wujud tenaga maupun makanan buat para tukang. Mereka sangat berantusias dengan proses renovasi kapel. Seluruh umat menyambut dengan senang hati dan gembira karena kapel telah selesai di renovasi

Umat mengucapkan banyak terima kasih kepada Romo Dradjat dan seluruh pihak yang telah membantu sehingga selesailah proses renovasi kapel Gemuh Singkalan, umat kini menjadi semangat dan rajin pergi ke kapel.

Terima kasih dan berkah dalem.

Ambrosius Suwandri

Tokoh Lingkungan

(diedit dari tulisan Bpk. Ambrosius Suwandri, 2012)