Dananya dari mana?

Kapel St. Paulus Gebangan terletak di Kp. Baru RT. 1 RW. 3 Desa Gebangan Kec. Pageruyung Kab. Kendal, dibangun pada tahun 1982 oleh umat generasi pertama yang diprakarsai dan didanai oleh Bp. Suparmanyu seorang Sinder Kebun Afdeling Gebangan Kebun Sukomangli PTPN IX Nusantara pada waktu itu dengan Pastor Paroki Sukorejo Rm. Albanus Pramana Padmawardaya SJ. Kapel dengan ukuran 7 x 14 m tersebut menampung sekitar 50 KK yang dibaptis perdana tahun 1980 di Ngloji rumah dinas Bp. Suparmanyu. Dalam perjalanannya,  kapel tersebut mengalami beberapa kali renovasi dan penambahan ruangan. Namun dalam perkembangannya kondisi kapel makin memprihatinkan karena kurang mendapat perhatian dari umat. Hal seperti ini bisa dimengerti mengingat kondisi ekonomi umat setempat, sehingga  banyak umat yang keluar dari gereja dengan berbagai alasan, seperti ekonomi, perkawinan, politik, SDM dan lain-lain. Hal ini menjadi suatu keprihatinan yang mendalam bagi umat yang kini tinggal 40 KK.
Rupanya doa dan harapan umat akan kerinduan sebuah tempat ibadah yang pantas dan layak segera terwujud dengan disetujuinya permohonan renovasi Gereja St. Paulus Gebangan oleh Pastor kepala Paroki Sukorejo yaitu Rm. Ignatius Dradjat Soesilo, SJ pada tahun 2011, maka segera dilaksanakan peletakan batu pertama dengan prosesi yang dihadiri oleh umat, para tokoh umat non Katolik , Muspika dan Rm. Yohanes Agus Setiyono, SJ . Sejak saat itu pembangunan terus berlangsung, bahu membahu antara panitia dan umat, juga keterlibatan dari umat lain yang begitu antusias karena begitu besar harapan umat agar segera terwujud sebuah Kapel yang bagus. Meskipun dalam perjalanannya timbul pertanyaan-pertanyaan yang mengusik hati dananya dari mana? Status tanahnya belum jelas,  seperti apa kalau jadi? Kapan jadinya dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang lain. Seiring dengan bergeraknya waktu satu persatu pertanyaan itu terjawab, sungguh Roh Tuhan bekerja itu sungguh nyata. Kini telah berdiri sebuah kapel yang megah, semakin menjadikan umat intim dengan Allah dan memotivasi umat lain untuk membangun tempat ibadahnya.
Umat bersyukur pada Allah yang telah memberikan rahmat yang begitu melimpah sehingga pembangunan gereja dapat terwujud lewat orang-orang yang dipercaya seperti Rm. Ignatius Dradjat Soesilo, SJ, para donatur dan semua orang yang terlibat.
Semoga kehadiran Kapel St. Paulus ini menjadi berkat bagi sesama dan umat semakin memiliki iman yang mendalam dan tangguh.

BERKAH DALEM.

Antonius Sisworo

(diedit dari tulisan Bpk. Antonius Sisworo, 2012)

Umat Kini Menjadi Semangat dan Rajin Pergi ke Kapel

Umat kini menjadi semangat dan rajin pergi ke kapel,,,

Kapel Gemuh Singkalan pertama ada  sekitar tahun 80-an. Bangunan Kapel yang pertama berbahan kayu, beratap daun ilalang serta pagar dari anyaman bambu. Walaupun kapel sangat sederhana dan memprihatinkan tetapi umat tetap semangat dalam kegiatan menggereja.

Kapel yang kedua menumpang dirumah Bapak Kasmin (alm) karena Kapel yang pertama rusak. Walaupun hanya menumpang tetapi umat tetap bersemangat untuk pergi ke Kapel. Setelah itu umat kembali mempunyai inisiatif untuk membangun kapel, walaupun dengan material yang sangat sederhana. Material batu dan pasir kami ambil dari sungai “kalibodri” kemudian semen yang kami pakai dicampur dengan kapur putih, tetapi bangunan tersebut tidak tahan lama. Kemudian umat berinisiatif lagi untuk membangun kapel yang kokoh, meskipun umat hanya sebatas  bisa membangun pondasi saja. Pondasi juga hanya menganggur karena keterbatasan biaya untuk melanjutkan bangunan kapel.

Setelah itu datanglah Rm. M Windiatmoko, SJ ke Paroki St. Isidorus Sukorejo sebagai pastor paroki, barulah kapel Gemuh Singkalan mulai dibangun sekitar tahun 2000. Umat bersama Romo mulai membangun Kapel dengan segala keterbatasan yang mereka miliki.

Beberapa lama setelah bangunan jadi, cat dinding Kapel mulai memudar, tetapi umat tidak memiliki biaya untuk melakukan pengecatan ulang. Uang kas lingkungan juga pas-pasan untuk kebutuhan kapel. Setelah datangnya Romo Ignatius Dradjat Soesilo, SJ ke Paroki St. Isidorus Sukorejo, umat mempunyai inisiatif untuk merenovasi  kapel dserta memasang paving di samping kapel. Saya beserta bapak ketua lingkungan datang menemui Romo Dradjat. Kami dan Romo Dradjat bermusyawarah dengan umat untuk membahas hal tersebut. Akhirnya Romo menyetujui dan akhirnya kapel direnovasi.

Seluruh umat lingkungan Gemuh membantu tukang secara bergiliran entah itu wujud tenaga maupun makanan buat para tukang. Mereka sangat berantusias dengan proses renovasi kapel. Seluruh umat menyambut dengan senang hati dan gembira karena kapel telah selesai di renovasi

Umat mengucapkan banyak terima kasih kepada Romo Dradjat dan seluruh pihak yang telah membantu sehingga selesailah proses renovasi kapel Gemuh Singkalan, umat kini menjadi semangat dan rajin pergi ke kapel.

Terima kasih dan berkah dalem.

Ambrosius Suwandri

Tokoh Lingkungan

(diedit dari tulisan Bpk. Ambrosius Suwandri, 2012)

Paradok Cinta

 

Engkau katakan suci
Di tengah serbuan benci.
Aku bilang merah
Engkau katakan darah
Aku bilang kemarin
Engkau katakan hari ini ingkar.

Dunia manusia memang aneh
Yang satu menangis
Yang lain tertawa
Seorang sedang berduka
Lain orang mabuk berpesta.

Kulihat bintang tak indah berkedip
Di langit penuh polusi debu
Angin tak mampu menyibak
Dan pandangku tak mampu menembus
Tebalnya kabut debu di udara yang tebal.

Bila langit ada di hati manusia
Dan bintang-bintang itu nurani sahaja
Adakah mata yang mampu mengerti
Dalamnya gerak batinnya ?

Bila langit adalah wajah kita
Dan bintang-bintang adalah harapan cita
Adakah makhluk yang mengenal cinta
Yang harus dihidupi dalam luka ?

Aku harus bilang apa
Bila dunia terus mendera
Hingga ke ujung Golgota ?

Ah, paradoks cinta.

Cinta itu wajah kita yang terluka.

Cinta itu sepiring nasi dalam gubug yang sama.

Cinta itu curam dalam di ketinggiannya.

Cinta itu sederhana ketika orang masuk di dalamnya.

Cinta itu gamblang dalam kerumitan perasaannya.

Cinta itu merangkul untuk melepaskannya dengan merdeka.

Cinta itu mengikatkan diri untuk bebas terbang ke angkasa.

Cinta itu, betapa pun kecilnya, tak pernah sia-sia.

Cinta itu betapa pun tersembunyinya, nyata dalam perbuatannya.

Cinta itu betapa pun heboh perayaannya mengandung susah derita.

Jadi, rayakan saja apa adanya.

Selamat Hari Kasih Sayang!

 

-eMYe-

(ditulis oleh eMYe)

Taman Doa Keluarga Kesayangan Allah; apa sih?

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di berbagai bidang membawa begitu banyak perubahan kehidupan manusia di berbagai segi kehidupannya. Kehidupan keluarga-keluarga tidak dapat terlepas dari berbagai dampak perubahan tersebut. Ada banyak keluarga tidak dapat menikmati perkembangan itu, atau bahkan menjadi korban darinya. Keluarga pecah karena adanya tekanan sosial ekonomi yang berat, sistem kemasyarakatan yang mengagungkan sisi keduniawi-materialistis semakin memperparah wajah kemiskinan keluarga yang sudah minim dalam relasi kasih di antara mereka.

Pada sisi lain, banyak juga keluarga yang dapat berlayar dengan lancar dan bahagia di arus perubahan tersebut karena kokohnya tradisi nilai-nilai luhur dan mulia yang selalu dipegang kuat oleh setiap anggota keluarga yang ada, terutama karena adanya kemauan dan kesetiaan untuk mendasarkan hidup pribadi dan hidup bersama pada kasih manusiawi dan ilahi.

Pada tahun lalu, 2017, Paroki Santo Isidorus Sukorejo merayakan rangkaian pesta: 90 tahun baptisan pertama, 60 tahun menjadi paroki, 40 tahun adanya Asrama Manik Hargo, dan syukur telah terbangunnya gereja dan kapel di paroki, wilayah, dan lingkungan sebagai sarana berjemaah dan beribadat umat Allah. Rangkaian perayaan ini menyadarkan dan membangkitkan rasa “Syukur: Diutus Untuk Mewujudkan Peradaban Kasih” di dalam kehidupan bersama. Peradaban kasih akan dapat dimulai bila keluarga-keluarga hidup di dalam suasana kasih yang menyejahterakan, bermartabat, dan beriman mendalam. Oleh karena itu, umat Paroki berketetapan hati untuk mulai, melanjutkan, memantapkan diri untuk membangun “Keluarga Kesayangan Allah” seturut teladan Keluarga Kudus Tuhan Yesus, Bunda Maria, dan Santo Yusup.

Sebagai tanda kesungguhan dan ketetapan niat ini, umat Paroki Santo Isidorus hendak membangun suatu “Taman Doa Keluarga Kesayangan Allah”. Dari dan di taman doa ini, baik secara pribadi maupun dalam kebersamaan, setiap anggota keluarga menyadari kembali dan bersyukur atas kehadiran kasih Allah di setiap peristiwa kehidupan keluarga. Di taman doa ini, anggota keluarga dapat memohon agar keluarganya menjadi keluarga kesayangan Allah, sebagaimana Keluarga Kudus yang hidup damai dan bahagia. Semoga Taman Doa Keluarga Kesayangan Allah juga menjadi sarana perwujudan dan pewartaan peradaban kasih di dalam kehidupan seluruh keluarga manusia, keluarga anak-anak Allah.

Semoga kehendak suci Allah, sebagaimana diwartakan oleh Kristus dan GerejaNya,  untuk menjadikan setiap manusia anak Allah di dalam Kristus dapat terwujudnyatakan. Marilah kita wujudkan suatu peradaban kasih, yang ditandai  dengan bahwa setiap keluarga tumbuh dan berkembang sebagai keluarga kesayangan Allah di dalam kehidupan ini.

Peringatan Hari Orang Sakit Sedunia 2019

Paroki St. Isidorus Sukorejo memperingatan Hari Orang Sakit Sedunia (HOSS) tahun 2019 pada hari Minggu, 17 Februari 2019. Peringatan HOSS kali ini disiapkan dan dikoordinir oleh Sr. Maria Yuliana, SND dan dr. Irene Sulasih selaku timja kesehatan, yang masuk pada bidang kemasyarakatan dalam susunan Dewan Paroki. HOSS dilaksanakan di 2 lokasi, yaitu di Gereja Katolik St. Isidoruspada pagi hari  dan di Gereja Hyang Triniji Suci Ngaliyan pada sore hari.

HOSS di Sukorejo

HOSS di Gereja Katolik St. Isidorus Sukorejo dilaksanakan bersamaan dengan Misa Novena ke-5 Pembangunan Keluarga dan Taman Doa Keluarga Kesayangan Allah. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Rm. Albanus Padmawardaya, SJ. Pada kesempatan itu diberikan sakramen pengurapan orang sakit kepada sekitar 135 umat yang sedang sakit maupun para lansia, dan beberapa umat yang memang membutuhkan. Umat yang menerima Sakramen Pengurapan berasal dari Sukorejo, Gebangan, Plantungan, Bendosari, Pageruyung, dan Kalimanggis.

Panitia bersama dengan KSR PMI Kec. Sukorejo memberikan pelayanan penjemputan kepada umat yang mengalami kesulitan untuk bisa datang ke Gereja. Dengan menggunakan mobil ambulance milik Puskesmas Pageruyung, personil dari KSR PMI di dampingi oleh Ibu dr. Irene Sulasih menjemput umat di dusun Sapen. Pasien harus tetap berada di brankar (bed), karena kondisi kesehatannya, sehingga sepanjang Ekaristi pasien didampingi oleh personil KSR dan panitia.

 

HOSS di Ngaliyan

Selain di Gereja induk Sukorejo, HOSS tahun ini juga diadakan di Gereja Ngaliyan. Umat yang akan menerima Sakramen Pengurapan  berasal dari wilayah Ngaliyan, Lingkungan St. Agustinus Krandegan, Lingkungan St. Yusuf Pilangsari, dan Lingkungan St. Agustinus Gemuh Singkalan. Sekitar 165 umat yang sakit, dan lansia menerima Sakramen Pengurapan dari tangan Rm. Thomas Septi Widhiyudana, SJ dan Rm. Albanus Padmawardaya, SJ.

Sama seperti yang dilakukan di Sukorejo, panitia dibantu oleh personil KSR Kec. Sukorejo memberikan pelayanan untuk menjemput umat yang membutuhkan dari rumah menuju Gereja. Kali ini umat yang harus dijemput cukup banyak, karena kebanyakan umat di wilayah Ngaliyan adalah lansia.

 

Pemberian Penghargaan Kepada Sahabat Relawan PMI Kec. Sukorejo

Gereja memberikan apresiasi dan penghargaan kepada para anggota KSR (Korps Sukarela) PMI Kec. Sukorejo. Para relawan ini sudah membantu dalam proses evakuasi umat yang akan mengikuti kegiatan HOSS di Sukorejo dan Ngaliyan. Sebelumnya mereka juga sudah dengan tulus dan setia membantu beberapa kegiatan di Paroki antara lain: pengobatan gratis, donor darah, gathering, pesta paroki, dan pengembangan kepribadian anak-anak Asrama Manik Hargo. Semoga dengan kehadiran mereka umat semakin bisa memahami pentingnya berbagi, melayani dengan tulus tanpa melihat latar belakang. SD.

Perayaan Natal Rayon Keris 2018

-Rayon Keris terdiri dari Paroki St. Isidorus Sukorejo, Paroki St. Martinus Weleri, dan Paroki St. Antonius Padua Kendal-

Perayaan Natal Rayon Keris tahun 2018 dilaksanakan di Paroki St. Martinus Weleri pada hari Selasa, 8 Januari 2018. Perayaan Natal dihadiri oleh Romo Paroki, Dewan Paroki, Panitia Natal dari Paroki St. Martinus Weleri, Paroki St. Isidorus Sukorejo, dan Paroki St. Isidorus Sukorejo.

Perayaan Natal ini sudah menjadi agenda rutin rayon, dimana masing-masing Paroki akan berbagi pengalaman tentang kegiatan Natal yang telah dilaksanakan.

Galery Foto